Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2013

RENUNGAN MALAM PERTAMA DI ALAM KUBUR



“ Hari itu ku beranjak dari tempat tidurku, karena ketenangan pergi meninggalkanku.Wahai malam pertama di alam kubur, katakanlah kepadaku apa yang akan terjadi ? ”


  Bila sudah saatnya, kematian pasti menjemput setiap orang. Bahkan kematian ini bisa menjemput kita kapan saja. Tidak peduli kita muda, tua,rakyat,pejabat atau apa saja kedudukan kita didunia ini. Ada 2 malam yang selalu dibayangkan setiap muslim ;
1. Sebuah malam ketika ia berada dirumahnya bersama anak-anak dan keluarganya dalam keadaan bahagia,hidup cukup,sejahtera dan tertawa riang bersama mereka.
2.   Sebuah malam setelah kematian menjemputnya. Yakni setelah ia dimasukkan kedalam liang kubur dan hari pertama ia tinggaL didalamnya.

Wahai orang yang meninggalkan Masjid ketika datang shalat,wahai orang yang berpaling dari Al Qur’an, wahai yang melanggar batas-batas Allah SWT, wahai oang yang hidup dalam jurang kemaksiatan kepada Allah SWT, Wahai orang yang merusak pagar-pagar yang diharamkan Allah SWT…

Sekarang engkau bertaubat, tapi dimanakah engkau sebelumnya ? Kala nyawa telah tersengal dengan lenguh gemertak dada, anda baru akan tersadar bahwa selama ini anda tertipu oleh gemerlapnya duniawi. Liang kubur bisa jadi salah satu taman atau salah satu lubang neraka. Liang kubur adalah tempat akhir, pertama yang kita singgahi. Jika seorang hamba selamat didalamnya, ia akan beruntung dan bahagia. Namun jika ia gagal, NA’UDZUBILLAH… niscaya ia akan kehilangan semua akhiratnya. Karena itu marilah kita meminta kepada Allah SWT agar perbuatan kita baik.

Demi Allah, jika kita bisa hidup 1000 tahun lamanya menikmati segala kelezatan dan bersenang-senang, dan tidak pernah didera kegelisahan, kegundahan, namun sayang semua itu tidak akan sebanding dengan MALAM PERTAMA DI LIANG KUBUR.
Demi Allah kita semua pasti akan merasakan malam itu. Lalu sudahkah kita mempersiapkan diri untuk malam diliang kubur yang bisa jadi taman surga atau lubang neraka ?

Datangilah kuburan para pemimpin,rakyat jelata,orang kaya,miskin lalu mana yang agung dan mana yang hina ? Semua fana dan mati.
Wahai orang yang telah berlalu, apa yang engkau agung-agungkan dimasa lalu? Orang-orang kaya datang dan pergi menghapus sisi baik gambar itu.

Apakah kau lihat kuburan yang berbeda ? Apakah orang kaya,raja,pejabat,dimasukkan kedalam liang kubur yang terbuat dari emas dan perak ? TIDAK, ia hanya mengenakan sepotong kain, sama seperti yang kita pakai dan kemudian ditimbun dengan tanah. Maka untuk mendapatkan taman surga dalam kubur, buatlah rumah yang dibangun diatas pondasi TAQWA,KEIMANAN,AL QUR’AN,DZIKIR,PUASA,SHOLAT DAN IBADAH.

Semoga kita bisa menjadikan malam pertama kita diliang kubur menjadi terang benderang. Aku memohon agar ia meneguhkan hati kita dengan perkataan yang teguh, tidak membutakan penglihatan dan mata hati kita, tidak menjadikan kita kaum yang menyimpang dari manhaj Allah dan memperjual belikan maksiat-maksiat kepada Allah dan lalai ayat-ayat Allah, hingga menjadi buta,tuli,sesat dan jauh.

MAHA SUCI ALLAH TUHAN YANG MULIA dari segala yang mereka sifatkan. Keselamatan bagi para Rasul dan SEGALA PUJI BAGI ALLAH TUHAN SEMESTA ALAM.

Kamis, 24 Mei 2012

Berhentilah, Sejenak saja...

 Waktu memang tak pernah berhenti berjalan, meski manusia di dalamnya tak bergerak sekali pun. Beruntunglah orang-orang yang selalu mengisi kehidupannya dengan berbagai macam kegiatan dan amalan. Semangat dan tekad yang kuat di dalam hati memang mampu membuat manusia bergerak layaknya air yang mengalir,terus bergerak mengikuti arus.

Ketika kita yakin bahwa hidup ini cuma sekali dan dunialah tempat kita menempa amal, mempersiapkan bekal yang terbaik sebelum akhirnya memasuki akhirat yang kekal, maka sepatutnya kita paham bahwa tak ada waktu yang boleh disia-siakan. Begitu banyak yang bisa dan harus kita kerjakan. Bahkan terkadang kita merasa bahwa waktu 24 jam yang diberikan masih kurang jika harus dibagi untuk mengerjakan amanah pekerjaan, kuliah, dakwah, keluarga, dan mengurusi diri sendiri.

Berlomba-lombalah dalam mengerjakan kebaikan, karena sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan. Tapi terkadang ketika kita begitu sibuk mengerjakan amanah, ada hal-hal yang kita abaikan. Saudaraku, cobalah bertanya pada diri sendiri. Jujurlah pada nurani. Sudahkah hak-hak diri kita tunaikan? Apakah ibadah kita tetap terjaga? Atau justru tilawah semakin berkurang dan malam demi malam selalu terlewatkan tanpa sempat sujud meski hanya dua rakaat di sepertiga malam?

Ibarat orang yang sedang melakukan perjalanan jauh, maka sesekali perlu berhenti untuk beristirahat atau mengisi bahan bakar kendaraan. Seperti itulah layaknya kita. Ketika bergerak, harus ada waktu dimana kita mengisi kekuatan, menenangkan pikiran, baru kemudian bergerak lagi. Rasakanlah betapa kosongnya hati ketika salat kita tak lagi khusyuk (bahkan terburu-buru), tilawah kita tak pernah mencapai target, Dhuha tak sempat dilakukan, dan akhirnya malam hanya meninggalkan lelah yang amat sangat. Apakah itu yang kita rasakan saat ini?

Jika iya, maka berhentilah sejenak. Sejenak saja... tanyalah pada diri, sudah sejauh mana kita tidak lagi tawazun (seimbang) pada diri? Saudaraku, benahilah kembali hak-hak diri dan orang lain yang selama ini mengkin terabaikan. Shalatlah sambil mengingat dosa-dosa yang mungkin sering kita lakukan tanpa kita sadari. Perbanyak doa agar kita selalu diberi kekuatan dan kesabaran. Bacalah Al-quran sambil merenungkan maknanya. Kerjakan amalan sunnah yang selama ini mungkin jarang sekali tersentuh.

Beruntunglah orang yang melakukan tasbih (shalat) ketika manusia sedang tertidur.
Ia pendam keinginannya diantara tulang rusuknya (dadanya).
Dalam suasana yang diliputi ketenangan yang khusyu.
Berdzikir kepada Allah sedang air matanya mengalir.
Kelak air matanya itu di kemudian hari akan menjadi pelita.
Guna menerangi jalan yang ditempuhnya di hari perhimpunan.
Seraya bersujud kepada Allah di penghujung malam.
Kembalilah kepada Allah dengan hati yang khusyu.
Dan berdoalah kepada-Nya dengan mata yang menangis.
Niscaya Dia akan menyambutmu dengan pemaafan yang luas.
Dan Dia akan menggantikan semua keburukanmu itu.
Dengan kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu tanpa habis-habisnya.
Semua pemaafan itu diberikan bagi hamba yang kembali pada-Nya.
Sebagai karunia yang berlimpah dari Pencipta alam semesta.
Bagi orang-orang yang segera bertaubat kepada-Nya

(gubahan Walid)

Berhenti sejenak bukan berarti lantas mematahkan langkah dan menghambat tujuan. Justru kita harus berhenti sejenak untuk mengisi kekuatan kita dan melihat apa saja yang telah kita lakukan. Karena kita adalah manusia, bukan batu karang yang tetap berdiri meski diterjang ombak. Karena kita adalah manusia, bukan gunung tinggi yang tetap kokoh meski diterpa angin kencang.
***

Rabu, 23 Mei 2012

Ketulusan dalam Kesederhanaan

Perempuan tua itu tampak bermenung, menunggui kios bensinnya yang sepi ketika seorang pemuda keren dan trendi menghampiri sambil menuntun motornya. Setelah bercakap-cakap sejenak, si ibu mengambil jerigen bensinnya dan mengisi tangki motor pemuda itu. Gratis! Tanpa bayar.
Seorang sopir delman memarkir delmannya di pinggir jalan dan melompat turun. Dengan sigap dia memanjat pohon tempat dua biji balon tersangkut dan mengambilnya. Seorang nenek dan cucunya yang tidak ia kenal samasekali, menungguinya di bawah.
***

Anda seperti pernah melihat fragmen di atas? Mungkin saja. Karena cerita tersebut saya ambil dari tayangan sebuah reality show di salah satu stasiun televisi. Saat menonton fragmen yang pertama, saya dan teman nonton saya pun berandai-andai, apa kira-kira yang akan kami lakukan jika kami ada dalam posisi si perempuan tua. Mungkin kami akan memandangi si pemuda keren dari atas sampai bawah, kemudian bertanya, "Kok bisa cowok sekeren ini tidak punya uang?" Jika dia menjawab lupa, kami mungkin akan kembali beralasan, "Kalo lupa tidak bawa uang, cari akal dong supaya bisa tetep beli bensin. Jual sepatu kek atau apa!"

Setelah itu kami berdua tertawa getir, mentertawakan diri sendiri. Kami memproklamirkan diri sebagai muslimah kaffah, yang 'semestinya' lebih baik dari orang kebanyakan. Namun ternyata 'kelebihan' yang kami miliki tidak membuat kami lebih tulus. Paradigma dan ilmu yang ada membuat kami melakukan penyaringan, bukan hanya terhadap keburukan, tetapi juga ketika hendak melakukan kebaikan. Melihat dulu alasannya, untuk apa dan mengapa kami harus dan tidak harus melakukan sesuatu, bahkan ketika sesuatu itu adalah menolong orang lain yang tampak sedang dalam kesulitan.

Kemudian kami membandingkan sikap kami dengan mereka yang dalam tayangan itu menolak permintaan tolong itu karena berbagai alasan. Seorang gadis menolak mengantar ibu tua ke seberang jalan karena dia sedang tergesa-gesa dan tidak searah dengan si ibu. Seorang pemuda menolak meniupkan balon bagi sesosok bocah kecil karena ia mengatakan sedang puasa, takut tidak kuat. Banyak laki-laki bersedia menolong seorang wanita muda cantik mengangkatkan barangnya, (coba saya tebak alasannya: karena perempuan itu cantik!) sementara seorang wanita paro baya harus berkali-kali menerima penolakan atas permintaan tolongnya, karena dia tidak memiliki 'nilai tambah' bagi penolongnya. Meski mungkin alasannya berbeda secara moral, namun pada kenyataannya kami juga mungkin akan melakukan seleksi dan berpikir-pikir ketika hendak memberikan pertolongan.

Lantas? Tak selalu salah mengambil keputusan berbuat baik pada orang lain pada alasan tertentu, namun fragmen-fragmen itu memberi banyak pelajaran bahwa menolong orang lain kadang tidak perlu bertanya mengapa mesti menolong. Pekerjaan menolong itu kadang perlu dilakukan 'hanya' karena ada yang sedang membutuhkan pertolongan sementara kita ingin dan bisa menolong. Betapapun sederhana cara berpikir dan keseluruhan hidup orang-orang 'biasa' itu, mereka memiliki ketulusan yang luar biasa.
***

Seorang laki-laki dengan kaki cacat dan mata buta sebelah, mengayuh gerobak khususnya dengan tangan, berkeliling menjual minyak tanah. Ketika seorang nenek dengan kompor di tangan minta minyak yang menjadi sandaran hidupnya itu untuk memasak, ia tanpa banyak kata memberi dengan senyum terukir di wajahnya. Bahkan ketika si nenek juga minta tolong ia membenahi sumbu kompor dan menutupkan kembali, ia pun mengerjakannya tanpa tampak keberatan sedikit pun.

Seorang nenek penjual duren di pinggir jalan dengan dagangan duren yang hanya beberapa buah. Seorang bapak dengan pakaian guru menawar hendak membeli durennya dan mengaku hanya punya uang lima ribu sedang harga duren itu puluhan ribu. Dengan ringan dia melepas benda jualannya itu, bahkan memberikan yang terbaik kepada si bapak. Padahal duren itu adalah satu-satunya sarana ia mengais rejeki dengan modal cukup besar dan untung tak seberapa.

Seorang kakek tua dengan senang hati mengantar perempuan hamil tua ke rumah sakit tanpa bayar, padahal jalanan menanjak dan jarak yang ditempuh cukup jauh.

Seorang...
Dan fragmen-fragmen lain pun tertayang, memberikan pelajaran berharga bagi siapa pun yang berkehendak mengambilnya.

Sabtu, 19 Mei 2012

SMS DO'A

Misteri Kekuatan Do'a

Hari Sabtu, Dunia Fantasi. Saya berdua sahabat perempuan saya baru saja turun dari wahana perahu ayun bernama Kora-Kora. Tiba-tiba saya merasa sangat pusing dan mual. “Hei…hei…hei…what’s this?’ seru saya dalam hati pada diri sendiri. Lucu rasanya, padahal setahun sebelumnya saya sudah mencoba wahana ini dan baik-baik saja. Bahkan tadi, saya jauh lebih menikmatinya alih-laih ketakutan seperti beberapa pengunjung lain yang mencoba wahana yang sama.

Tapi mungkin sebenarnya saya memang tidak tahan terhadap hal-hal seperti ini, atau barangkali karena tadi pagi tidak sarapan dengan baik. Atau mungkin, bandana yang saya kenakan agar rambut tidak menyelip keluar jilbab terlalu kuat, sehingga menghambat peredaran darah ke kepala. Apa pun itu, yang pasti isi perut saya makin tidak kompromi. “Kayaknya kita perlu istirahat, deh. Kepalaku pusing,” usul saya kepada si sahabat. “Sekalian shalat dhuhur.”

Teman saya mengangguk dan kami pun berjalan menuju mushalla. Di perjalanan, kami menemukan sebuah counter es krim. Haha! “Bagaimana kalau kita beli es krim dulu?” Kami pun sepakat membeli es krim dan kemudian menikmatinya sambil menonton orang-orang yang menaiki wahana kicir-kicir (seperti tangan raksasa yang jari-jarinya akan membolak-balikkan orang-orang yang ‘dicengkeramnya’), wahana yang menurut saya paling menantang dan saya bahkan tidak berani mencobanya.

Istirahat dan makan es krim ternyata belum membuat saya merasa lebih baik. Padahal biasanya es krim adalah makanan yang paling dapat meredakan stress saya atau kondisi fisik yang kurang sehat. Saat berjalan menuju tempat wudhu, saya merasa desakan dalam perut makin kuat. Sambil berusaha tetap tenang saya menuju kamar mandi dan mengeluarkan sebagian isi perut di sana. Cukup lama sebelum saya merasa cukup nyaman. Setelah mengambil air wudhu, saya menuju mushalla. Teman yang sudah selesai shalat dzuhur menatap saya dengan pandangan bertanya-tanya.

“Maaf, agak lama. Aku perlu mengeluarkan isi perutku dulu,” kata saya sambil nyengir.
“Are you ok? You look pale. Mbak mau kita pulang sekarang? Apa perlu ke dokter? Minum obat?” berondongnya panik.

“Not that bad. It’s ok. I’m fine,” saya menenangkannya sambil tetap nyengir. “Istirahat, minum dan makan yang segar-segar cukuplah,” kata saya lagi sambil menunjuk buah apel dan pir bekal kami dari rumah.

“Oh, baik kalau begitu,” katanya sambil mengeluarkan ponsel. “Aku akan sms teman-teman agar mengirimkan doa untukmu agar cepat sembuh,” ucapnya serius. Dia langsung sibuk mengetik di layar HP-nya.

Saya hanya memandangnya heran. Meminta teman-teman mengirim doa? Tidakkah itu terlalu berlebihan? Saya hanya merasa pusing dan mual sedikit, dan saya terbiasa mengalami hal tersebut jika menaiki kendaraan tertentu atau apa saja yang berayun dan berputar. Istirahat sejenak akan membuat saya sembuh. Tapi saya membiarkan saja dia mengirim sms pada teman-temannya.

Tak berapa lama kemudian, untaian doa-doa kesembuhan yang dikirim lewat sms datang beruntun. Bahkan ada yang menelepon. Menyembuhkan atau tidak, tapi saya senang mendapat banyak sms dan telepon doa. Tapi beberapa saat kemudian saya takjub. Saya merasa tiba-tiba jauh lebih baik. ”That’s how prayer works!” kata teman saya seraya tersenyum.
***

Kejadian itu mengingatkan saya pada sesuatu. Sms do’a berantai dari teman-teman. Biasanya berisi doa untuk Palestina dan doa-doa untuk kaum muslim yang tengah dilanda bencana. Tapi selama ini, sms berantai itu hanya berhenti pada saya karena saya tak pernah meneruskannya. Menurut saya sms itu tidak terlalu penting bagi saya. Karena saya memang akan berdoa dengan atau tanpa sms itu. Maka saya juga tidak pernah meneruskan sms itu pada yang lainnya. Saya tahu bahwa doa adalah senjata terbesar kaum muslim, tetapi saya tak pernah terlalu berpikir bahwa menyebar dan meneruskan sms doa itu akan berarti banyak.

Namun, kejadian hari itu memberi saya jawaban logis bahwa sms itu memang benar berarti banyak. Tentu bukan smsnya yang kemudian menjadi kekuatan doa, namun sms itu telah menjadi sarana pemberitahuan, penggalangan doa terhadap banyak orang. Mungkin saja, orang lupa mendoakan orang lain jika tidak dingatkan. Atau bahkan tidak tahu jika tidak diberitahu Dan sms doa itu minimal akan mengingatkannya untuk berdoa, bahkan sekaligus memberikan tuntunan doa.

Dapat dibayangkan, kalau saja setiap orang yang dikirimi sms doa langsung mengamalkannya dan menyebarkannya kembali pada orang lain, berapa banyak doa yang terangkat ke langit pada waktu bersamaan? Maka InsyaAllah, itu benar-benar akan menjadi kekuatan doa yang maha dahsyat.

Jumat, 04 Mei 2012

Kisah Hari Ini (Oase Iman)

Telinga dan Tangan Ibu

Oase Iman--Berada bersama ibu begitu menenangkan. Sebab rasanya ibu tak pernah lelah menjadi 'telinga terbaik' bagi setiap cerita yang mengalir deras dari mulut saya, setiap kali sampai di rumah, selesai beraktifitas seharian. Ibu tak perlu bertanya apapun, saya akan duduk manis berlama-lama di kamarnya, menumpahkan segala yang telah memenuhsesakkan dada ini. Saya tak pernah berpikir sebelumnya, bahwa celoteh saya saat itu bisa jadi akan menambah lelah dan memberatkan beban yang sudah menggelantung di pundak ibu. Tapi senyumnya tetap melipur hati, seolah letih itu tak ada.

Hari itu, saya begitu tergesa sampai di sekolah, hampir saja terlambat. Pagi-pagi sekali, tidak seperti biasanya, saya telah ikut sibuk membereskan banyak sekali barang. Sekitar pukul tujuh, saya dan ibu telah berada di sebuah lobby hotel terkenal di Jakarta. Hari itu, untuk yang pertama kalinya, saya berhadapan dengan sekian banyak turis yang berseliweran dengan wajah-wajah penuh antusias memandangi, melihat-lihat, dan bercakap-cakap dengan kami-para penjaja barang dagangan di stand bazaar. Kali itu, saat yang istimewa bagi ibu, hari pertama menjadi peserta bazaar yang dihadiri para turis maupun pekerja asing. Saya pun tak kalah semangatnya, sepanjang siang di sekolah tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, sampai teman sebangku saya-Rani namanya-rasanya sudah begitu bosan mendengar celotehan saya tentang pengalaman pagi itu. Menyaksikan dan terkikik geli mendengar ibu bercakap-cakap dengan para pembeli. Ngawur, tapi tetap saja ngotot. Padahal ibu tak bisa berbahasa Inggris.

Saya rasa Allah telah menganugerahkan ibu sepasang 'tangan ajaib'. Saya ingat, belasan tahun lalu, saat saya duduk di bangku SD, rumah kami penuh dengan pernak-pernik. Saat itu, puluhan gulung pita berwarna-warni menumpuk di sudut kamar. Berjejeran pula berlembar-lembar karton tebal, busa, serta tumpukan kain. Saat itu, saya selalu senang memandangi dan bermain-main di 'pojok berantakan' milik ibu. Kedua tangannya telah menghasilkan barang-barang yang begitu menarik di mata saya. Saat itu, saya dengan gembira menyambut tawaran ibu untuk menjadi 'asistennya'. Dan saya pun asyik bergumul dengan plastik-plastik kecil, membukanya kemudian memasukkan pita rambut warna-warni hasil karya ibu, dan menjepitnya dengan stapler. Hanya itu. Ibu tak memperkenankan saya untuk menyentuh 'tempat foto' cantik buatannya, yang digantung berjejer di dinding mar. Belum lagi tumpukan souvenir pesta pernikahan, entah ada berapa ratus. Kegembiraan saya berada di antara benda-benda menarik itu seperti membuat saya lupa, bahwa saya sering menemukan ibu terkantuk-kantuk duduk di ‘meja operasi’nya sampai tengah malam, menyelesaikan pesanan.

Ibu telah menghabiskan entah berapa bagian waktu dalam hidupnya untuk menjadi 'ember' ternyaman bagi diri saya. Di sanalah saya menumpahkan segala macam hal yang sering membuat ibu tersenyum geli, tertawa, atau mungkin juga turut bersedih atas apa yang saya alami. Ajaibnya, kini saya tak lagi perlu memulai percakapan itu. Sepertinya ibu telah mengetahui segala isi hati saya, tanpa perlu saya ungkapkan. Begitukah seorang ibu? Saya sempat berpikir, tak usahlah lagi menceritakan segala hal padanya. Mungkin itu hanya akan menambah lelahnya. Saya memutuskan untuk berhenti berceloteh pada ibu, toh saya sudah dewasa, dan tak lagi pantas memberatkannya dengan hal-hal tak penting macam celotehan itu. Namun hari itu, ibu menelpon saya ke kantor dan menegur saya, "Ta, kapan kamu ke rumah? Kita kan udah lama nggak cerita-cerita..."

Ibu tak hanya pendengar setia bagi celoteh anaknya, namun ia juga telah memberi dan mengajarkan saya banyak hal melalui kedua 'tangan ajaib'nya. Ia mengajarkan saya untuk selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, melalui mimik wajah serta kalimat-kalimatnya menanggapi setiap perkataan yang saya ucapkan. Saya belajar, bahwa setiap perhatian kecil yang diberikan kepada seorang anak, maka yang tersimpan padanya adalah sebuah kasih sayang besar dan keyakinan bahwa ia disayangi. Saya belajar, bahwa kedua tangan anugerah Allah ini, adalah modal bagi kerja keras yang harus dilakukan demi orang-orang tercinta, keluarga. Entah apapun yang dapat diperbuat.

Saya tak heran, betapa banyak teman dan relasi bisnis yang ibu miliki sekarang. Banyak pula kerabat dekat yang betah berlama-lama mengobrol dengan ibu. Tak sedikit orang yang mengagumi 'bakat' yang mereka katakan terhadap keterampilan yang ibu miliki. Ibu menyebutnya hobi, tapi saya memahaminya sebagai cara ibu bersenang-senang dengan 'tuntutan' padanya untuk membantu ayah membiayai keluarga. Seringkali lelah membayang dalam raut wajah ibu, namun tak jarang saya mendapatinya berbinar kala 'tangan ajaib'nya telah berhasil 'menciptakan' karya baru.

Sekarang ini, adalah giliran saya untuk menjadi 'telinga terbaik' bagi ibu sampai hari tuanya nanti, dan mempersembahkan hasil yang dapat saya raih dari kedua belah tangan ini untuk membahagiakannya.